Kenapa? Menuntut Ilmu dalam perspektif yang benar wajib karena kebodohan merupakan malapetaka bahaya kemusyirikan.

Kebodohan Seseorang Dan Atau Masyarakat Primitif Terbelakang Sumber Kemusyirikannya PadaNya

Memasuki tahun baru 2013 dengan semangat niat lebih baik dengan tidak bermaksud meratapi kenistaan masa lalu karena memang mata kita sengaja diletakkan Allah SWT tuhan alam semesta alam berada didepan yang mengandung makna positif menatap masa depan dalam membangun perdaban kehidupan sebagai manusia berbeda dengan mata yang diberikan kepada bangsa hewan seperti ayam kerbau ular dan atau sebangsanya yang berada disisi kiri kanan yang membuatnya doyan tengok kiri kanan gak ada orang lantas embat sahaja. Namun masa lalu gak juga perlu dilupakan sepanjang kita masih punya ingatan serta mampu mengingatnya untuk arah perbaikan masa depan sepanjang tidak sampai menimbulkan prahara pelik dalam kehidupan sekarang kedepan dan atau mejadikannya sebagai illah tentu menjadi malapetaka kemusyrikan pada sang yang maha kuasa Allah SWT tuhan alam semesta.

Pada  jaman dahulu, magnet yang kita kenal  sekarang  ini pernah dianggap  sebagai  batu  ajaib  dikarenakan  kemampuannya  dapat menarik benda-benda lain yang mengandung unsur besi. Fenomena  pada  sejenis  batu  kehitaman  bernama  batuan magnet (lodestone) yang dapat menarik jenis logam tertentu, pada jaman itu dianggap aneh karena berbeda dengan benda lainnya, seperti jenis batu lain dan besi biasa, kayu, daun, kain, dll., yang tidak memiliki daya tarik seperti halnya magnet. Dan  keanehan pada magnet di kala  itu menimbulkan  respon sebagian rakyat secara tak kalah anehnya pula.  Yakni dianggap sebagai batu bertuah, besi klenik, dst., hingga disakralkan. Barangkali mirip  dengan kegilaan masih kerap terjadi  kini,  yaitu  pola mitologis terhadap batu akik berbentuk perhiasan cincin dan atau kalung sampai ada yang mendapat gelar aneh tak bermakna potensi kompotensi keilmuan seperti bapak batu cincin.  Konon uraian awal yang agak  ilmiah tentang magnet ditulis pada tahun 1269 oleh orang Perancis bernama Petrus Peregrinus. Tapi hingga lebih dari 300 tahun setelah itu, olah persepsi manusia terhadap magnet cenderung stagnan.     Di tahun 1600 namun bukan dizaman megapro dan atau ada juga yang latah membolak balik kata menjadi promega, maksudnya di abad ke-16 dulu, William Gilbert (1544-1603) fisikawan Inggris yang merangkap dokter pribadi  ratu Elizabeth  I, melakukan penelitian pada magnet.    Hasilnya ia tuangkan menjadi sebuah buku yang berjudul Latin : De Magnete, Magneticisque Corporibus,  et De Magno Magnete Tellure (Magnet, Elemen-elemen Magnetik, dan Magnet Besar Bumi) yang dijadikan sebagai sumber tulisan ini, buku ini telah memicu penelitian yang lebih mendalam oleh para ilmuwan dari generasi-generasi berikutnya.  Sehingga kini telah diperoleh gambaran yang  jauh  lebih  jelas akan  sifat-sifat magnet, seperti berupa  karakter  komplementernya  dengan  fenomena  (arus) listrik,  yang  kemudian kian memperluas  pemanfaatannya  karena dapat direkayasa menjadi energi penerangan serta energi gerak. Kabar terkini kita ketahui pula di dunia komputerisasi, dalam piranti kerasnya, dijadikan media  penyimpan  data  berupa  disk  dan  pita magnetik. Dan beragam cara aplikasi lain beserta berbagai manfaatnya pula.  Uraian sekilas tentang magnet itu memberi sedikit gambaran bagaimana suatu benda dimitoskan di satu jaman jadi tak aneh lagi kini, bahkan menjadi ilmiah.    Bila dahulu orang yang rajin mengoleksi batuan  magnet  bisa  dicap  dukun  atau  tukang  santet,  tapi  kini boleh  jadi  bapak  montir  yang  tengah  menenteng  sebatang  besi magnet pun bisa ia seolah naik pangkat.   Bisa dikira ilmuwan kalau dia bukan pemulung. Persepsi manusia terhadap sifat magnet dan batu akik merupakan contoh kasus bagaimana suatu benda dipersepsi dengan pola pikir mitologis yang menyimpang dari alur benarnya. Dan pola mitos seperti itu dapat menjerumuskan siapapun pada kemusyirikan. Hal inilah yang menyebabkan kenapa menuntut ilmu dalam perspektif kebenaran disunnahkan bahkan wajib karena memang kebodohan sebagai sumber malapetaka kemusyirikan. Dengan kata lain kebodohan sumber kemusyirikan yang akan mengisolasi rasa adanya kebenaran Ilahi sama halnya dengan minimnya infrastruktur disuatu daerah yang membuat daerah itu menjadi terisolir sehingga buta terhadap hirukpikuknya kehidupan layaknya dikota begitu juga dengan kemiskinan kalau tidak disikapi dengan iman akan mengikis rasa syukur yang menjurus kepada kekupuran alias ingkar kepada sang khalik Allah SWT pencipta alam semesta , sehingga perlu diberantas dengan suatu program terpadu pada daerah-daerah primitif terbelakang yang rawan dengan persepsi mitologis menyimpang menyangkut nilai rasa Ketuhanan Yang maha Esa bahkan bisa sahaja mengaku bertuhan yang sebenarnya menyembah selainNya menggilai kebiasaan hidup kakek monyong dengan pola pikir kuno anti tuhan yang masih terjebak yang ingin tetap bertahan dengan prinsip hidup bak dizaman batu akik bermitologis. Pepatah mengatakan semakin tinggi pohon semakin kencang angin yang menerpanya begitu juga halnya semakin tinggi keilmuan seseorang akan semakin tinggi pemahamannya terhadap penciptaan alam semesta berikut aturan mainnya sehingga membawanya kepada keagungan cinta maha cintaNya yang maha kuasa. Maka gak ada yang salah ketika seorang professor teknik, Doktor filsafat, dokter umum dan atau spesialis kandungan, ekonom, akuntan dll pada akhirnya makin relijius dalam perjalanan keilmuannya karena semua sumber kebenaran keilmuan berada padaNya lagi pula spritualitas adalah kebutuhan setiap insan hanya orang bodoh yang tidak mahu tahu dengan tuhannya sang maha pencipta Allah SWT tuhan semesta alam. Menuntut Ilmu disunnahkan dalam berbagai keyakinan karena kebodohan is malapetaka kemusyirikan. Allohua’lam

About Tongku Mangaraja Mualim

suka menikmati hidup apa adanya dengan penuh senyum berkah ilahi rabb!

Posted on Januari 2, 2013, in Adil & Beradab, Aqidah & Tauhid, Bermartabat, Berprikemanusiaan, BUMI ALLAH, Campur Tangan Allah SWT, Gejolak Sosial, Indahnya Kemiskinan Adalah Sabar, Ketuhanan Yang Maha Esa, Manusia Seutuhnya Yang Kerketuhanan Yang Maha Esa, Membentuk Pola Pikir, Mengamalkan Ilmu, Negarawan Yang Baik, Nurani, Persamaan, Perubahan, Relijius, Serius and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: