Parada Harahap, Kemerdekaan & Dramatisasi Sepak Bola Indonesia

Sebgaimana kita kietahui bahwa Indonesia dipastikan tidak bisa lagi mengikuti kompetisi yang digelar Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sepanjang 2015 menyusul sanksi yang diberikan FIFA sejak 30 Mei lalu. Seperti dikutip dari situs resmi AFC, seluruh klub dan timnas Indonesia di semua level tidak bisa ambil bagian dalam kompetisi yang diselenggarakan AFC dan FIFA.

Komite Eksekutif (Exco) FIFA sempat memberi keringanan bagi Timnas Indonesia U-23 mengikuti ajang SEA Games 2015 di Singapura. Selebihnya, Indonesia tidak bisa mengikuti seluruh kompetisi.

Kualifikasi Piala Dunia 2018 juga digunakan untuk Kualifikasi Piala Asia 2019. Indonesia seharusnya tergabung di Grup F bersama Thailand, Irak, Taiwan, dan Vietnam. Dengan adanya sanksi FIFA, Indonesia secara otomatis dicoret dari kualifikasi.

Sanksi FIFA membuat Timnas Indonesia U-16 dan U-19 tidak bisa mengikuti babak kualifikasi Piala Asia 2016.

Indonesia semula dipercaya AFC menjadi tuan rumah zona ASEAN yang dijadwalkan berlangsung Oktober 2015 mendatang. Tim futsal Indonesia dipastikan gagal ke putaran final Piala Asia 2016 yang berlangsung di Uzbekistan tanpa memiliki kesempatan berjuang di lapangan.

Satu efek lain yang dirasakan Indonesia dari sanksi adalah tidak mendapatkan keuntungan dari program pengembangan AFC dan FIFA selama sanksi berlangsung. Ofisial dari Indonesia juga dilarang mengikuti kursus ataupun seminar yang dibuat AFC dan FIFA.

Peringkat sepak bola Indonesia berpotensi turun drastis akibat sanksi FIFA, kita tidak bisa lagi memperbaiki peringkat karena tidak bisa mengikuti turnamen internasional yang masuk agenda FIFA. Mirisnya Timnas Indonesia dicoret dari Kualifikasi Piala Dunia 2018. Sumber : Cnn

Indonesia dan atau PSSI sudah resmi disanksi FIFA per 30 Mei 2015 menyusul kisruh sepak bola ditanah air dengan intervensi tingkat tinggi yang mengenaskan. Sanksi ini diumumkan FIFA satu hari setelah Kongres FIFA dengan Anggota Exco FIFA. Sanksi ini diumumkan pada sidang Exco pertama di Zurich Swiss.

“Sepak bola bukanlah milik segelintir orang dan atau presiden sekalipun dengan piala presidennya, akan tetapi milik bangsa Indonesia, milik rakyat Indonesia. Kalau sistem tata kelola yang dirancang oleh tim transisi dibawah pembinaan Kemenpora sudah berjalan aktif dan normal, kita optimistis pemerintah pasti akan melakukan komunikasi yang lebih fresh dan lebih progres dengan AFF, AFC dan FIFA,” harap bung Partahian Harahap, SE.Ak, seorang penikmat strategi dan taktik sepak bola yang juga pernah merasakan bagaimana heroiknya menyarangkan sikulit bundar ke gawang lawan pada turnamen mahasiswa dikampusnya, singkat.

Sepakbola dikenal karena diberitakan di media. Surat kabar adalah media yang paling setia dan konsisten memberitakan kabar berita tentang sepakbola. Buku-buku sepakbola yang ditulis kemudian, umumnya mengacu pada pemberitaan surat kabar. Serial artikel sepakbola di Noord Sumatra khususnya di Medan sangat mengandalkan koran-koran yang terbit tempo doeloe. Artikel ini coba menelusuri pertumbuhan dan perkembangan pers di Noord Sumatra sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pemberitaan sepakbola. Salah satu pelaku pers di Noord Sumatra adalah Parada Harahap. Bagaimana perjalanannya, silahkan ikuti dalam artikel ini.

Parada Harahap lahir jelang tahun 1900 di Pargarutan, Padang Sidempuan. Tepatnya pada tanggal 15 Desember 1899 – meninggal di Jakarta, 11 Mei 1959 pada umur 59 tahun) adalah seorang jurnalis Indonesia. Pada usia 14 tahun beliau sudah berani hijrah ke Deli. Bekerja di perkebunan sebagai krani. Tidak tahan melihat penderitaan para kuli di perkebunan, Parada Harahap coba bongkar kasus kekejaman di perkebunan (poenali sanctie). Laporannya dikirim ke redaksi koran Benih Mardeka di Medan. Ia dijuluki King of the Java Press karena kemauannya yang keras dan semangat belajarnya yang tinggi, baik secara otodidak maupun mengikuti kursus-kursus. Sejak bulan Juli 1914, ia bekerja sebagai leerling schryver pada Rubber Cultur My Amasterdam di Sungai Karang, Asahan. Karena kecerdasannya Parada Harahap kemudian dapat menggantikan juru buku berkebangsaan Jerman. Selama bekerja di perkebunan itu Parada Harahap terus belajar supaya dapat berbicara bahasa Belanda membaca surat kabar De Sumatera Post (Riau Pos belum bisa dibaca ketika itu). Pada tahun 1917 dan 1918 Parada Harahap telah menulis dan membongkar kekejaman Poenale Sanctie dan perlakuan di luar batas perikemanusiaan terhadap kuli-kuli kontrak yang dilakukan baik oleh tuan kebun maupun bawahannya.

Karier jurnalisnya dimulai ketika ia menjadi staf redaksi surat kabar Benih Merdeka. Ketika koran Benih Mardeka.dilarang terbit karena penanggungjawabnya didakwa, Parada Harahap menerbitkan koran Sinar Merdeka di Padang Sidempuan (1919) dan memimpin majalah Poestaha. Surat kabarnya sebagian besar mengkritik kebijakan pemerintahan kolonial Belanda akibat kesewenang-wenangan mereka selama di Hindia Belanda. Tahun 1922 Parada Harahap masuk gerakan pemuda di Sibolga dan selanjutnya hijrah ke Batavia menjadi wartawan Bintang Hindia dan mendirikan kantor berita Alpena. Pada saat itu ia mulai memakai nama samaran Oom Baron Matturepeck yang diambil dari bahasa Batak (berarti suara dari kertas). Di Batavia, Parada Harahap mendirikan klub sepakbola Bataksche Voetbal Vereeniging (De Sumatra post, 29-09-1925). Diapresiasi orang asing sebagai de beste journalisten van de Europeescbe pers (De Indische courant, 23-12-1925). Karirnya di bidang pers melejit, menerbitkan koran Bintang Timoer (1926). Parada Harahap adalah mentor Soekarno-Hatta (memancing Soekarno keluar kampus dan membimbing Hatta ke Jepang). Parada Harahap adalah The King of the Javapress (Bataviaasch nieuwsblad 29-12-1933) dan pendiri PWI (Persatuan Wartawan Indonesia).

Pada masa pendudukan Jepang, almarhum dipercaya menjadi pemimpin redaksi Surat Kabar Sinar Baroe.

Menjelang masa kemerdekaan pada tahun 1945 , beliau masuk dalam susunan anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan).

Selain itu, ia adalah satu-satunya orang pertama yang mendirikan Akademi Wartawan di Jakarta.

Sumber : http://id.wikipedia.org/

Iklan

About Tongku Mangaraja Mualim

suka menikmati hidup apa adanya dengan penuh senyum berkah ilahi rabb!

Posted on Agustus 14, 2015, in Kemerdekaan Indonesia, Sejarah and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: