Islam Tidak Akan Pernah Berstandarkan Budaya!

Kebiasaan-kebiasaan suatu masyarakat yang merupakan bagian dari budaya hidup manusia mempunyai pengaruh di dalam penentuan hukum peradaban ditengah kehidupannya bermasyarakat yang dalam pandangan islam tidak akan merubah hukum dalam islam. Karena hal tersebut hanya berlaku pada hal-hal yang belum ada ketentuannya dalam syareat, seperti kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat Indonesia seperti ditapanuli dimana keluarga wanita biasanya, menentukan jumlah mas kawin berupa sejumlah uang sekitar 30-100 gram emas. Begitu juga dengan seragam sekolah dengan bercorak budaya didaerah lain sepanjang tidak menimbulkan masalah dan atau kegaduhan serta tidak memandangnya sebagai seragam budaya akan tetapi tetap dalam sudut pandang seragam sekolah karena sekolah bukan milik salah satu budaya melainkan seluruh budaya nusantara berhak untuk diketahui disekolah manapun sepanjang nusantara. Dalam Islam budaya itu syah-syah sahaja, karena islam tidak menentukan besar kecilnya mahar yang harus diberikan kepada wanita serta cara berpakaian kecuali menentukan dalam hal menutup aurat. Akan tetapi untuk hal-hal yang sudah ditetapkan ketentuan dan kriterianya di dalam Islam, maka adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat tidak boleh dijadikan standar hukum. Contoh sederhana sahaja membolehkan menikah antar agama dengan dalil al adatu muhakkamatun, karena menikah antar agama sudah menjadi budaya suatu masyarakat maka dibolehkan dengan dasar sudah budaya, ini kan kaidah akal-akalan beraliran keliru. Pernyataan seperti itu tidak benar, karena Islam telah menetapkan bahwa seorang wanita muslimah hanya boleh menikah dengan seorang muslim. Seterusnya kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam , kemudian di rekonstruksi sehingga menjadi Islami. Contoh tradisi Jahiliyah yang melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam , seperti lafadh talbiyah yang sarat dengan kesyirikan, thowaf di Ka’bah dengan telanjang. Islam datang untuk meronstruksi budaya tersebut, menjadi bentuk Ibadah yang telah ditetapkan aturan-aturannya, begitu juga dengan kebudayaan arab untuk melantukan syair-syair Jahiliyah oleh Islam kebudayaan tersebut tetap dipertahankan, tetapi direkonstruksi isinya agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Mungkin begitu jugalah dengan masalah mengangkan diaceh yang dianggab melanggar budaya dalam pandangan islam lebih penting adalah bagaimana menutup auratnya untuk menjaga isinya. Artinya Islam tidak akan pernah tunduk kepada kehendak budaya yang cenderung keliru sebaliknya budayalah yang senantiasa harus mematuhi kehendak agama kalau tidak ingin bersalahan dan atau terancam masuk neraka. Sejatinya hal mengangkan itu diperdakan serta menimbulkan kegaduhan pemerintah pusat mewakili kedaulatan NKRI bisa mengambil langkah penertiban atas perda-perda yang berpotensi menodai dasar negara pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan idiologi bangsa karena perda manapun bisa sahaja diamputasi oleh pusat maupun daerah itu sendiri bilamana dipandang bertentangan dengan dasar negara!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: