Perintah Allah, Agama Dan/atau Budaya?

Allah telah memberikan kepada manusia sebuah kemampuan serta kebebasan untuk berkarya, berpikir serta menciptakan suatu kebudayaan. Disini, Islam mengakui bahwa budaya merupakan hasil karya manusia dan atau tidak mengandung perintah Allah didalamnya sehingga tidak akan menimbulkan suatu do sa dalam mengabaikannya. Sedangkan agama adalah pemberian Allah SWT untuk kemaslahatan umat manusia itu sendiri yang mengandung perintah-perintah Allah SWT yang apabila mengabaikannya mengakibatkan perbuatan dosa yang menimbulkan murka Allah apalagi karena budaya dan atau lebih mengutamakan karya manusia ketimbang perintahNya jelas sahaja Allah murka. Agama adalah suatu pemberian Allah kepada manusia untuk mengarahkan serta membimbing karya-karya manusia tersebut agar bermanfaat, berkemajuan, mempunyai nilai positif serta mengangkat harkat martabat manusia bukan sebaliknya lebih menonjolkan budaya dalam mengendalikan kehidupan beragama sampai shalat juga harus memakai pakaian kebesaran budaya dan atau lainnya, hal semacam ini akan merusak nilai Islam itu sendiri ibarat kenderaan budaya adalah roda yang senantiasa berputar-putar sementara agama adalah stir  pengendalinya adalah Allah SWT. Bisa dibayangkan kalau roda mengendalikan stir apa kata dunia artinya telah mengambil posisi Allah sebagai pengendali naudzubillah. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk selalu beramal dan berkarya, untuk selalu menggunakan pikiran yang diberikan Allah untuk mengolah alam dunia menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi sesama serta kepentingan manusia lainnya akan tetapi dalam sudut pandang keislaman sejatinya membesarkan kebesaran Allah SWT terlebih dalam rumah ibadah sebagai yang diyakini rumah Allah bukan malah membesarkan baju kebesaran budaya dan atau lainnya kalau dirumah Allah sahaja sudah lupa denganNya apalagi diluarnya wajar sahaja mengambil jalan hidup sesat dalam istilah keuangan memilih jalan penggelapan dari pada mewujudkan transparansi anggara begitu juga dengan tempat-tempat yang diyakini sebagai tempat umum karena tentu ada tempat-tempat khusus untuk sesuatu yang khusus tidak berlaku umum kalau tidak ingin menodai ketertiban umum yang dizaman Soeharto bisa sahaja dikategorikan sebagai GPK dan atau gerakan pengacau keamanan. Islam tidak melarang manusia untuk “ berbudaya” dengan catatan mampu menempatkannya pada pos yang tepat sebagai karya tidak menjadi hantu dalam hidup manusia lainnya. Islam, sebagaimana telah diterangkan di atas, datang untuk mengatur serta membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik yang seimbang bukan untuk dibenalui dan atau merusak makna-makna ajarannya terlebih dengan ajaran tandingan apakah itu dengan 12 jurus budaya syetan yang membuat anak-anak pon berani berlaku kurang ajar kepada orang dewasa yang dianggab tidak sebudaya.

Dengan demikian kedatangan Islam sebagai perintah Allah SWT tidaklah untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh serta terhindar dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan atau membawa mudarat di dalam kehidupan umat manusia, sehingga Islam perlu meluruskan serta membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan masyarakat yang madani. Dari sudut pandang kenegaraan prinsip semacam ini sebenarnya telah terakomodir menjiwai isi Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana dalam penjelasan UUD 1945 pasal 32, disebutkan : “ Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia”. Artinya kita bangsa Indonesia tidak alergi dengan budaya asing seperti budaya Arab, Persia, Turki, Mongol, India, Melayu, Berber  yang berbaur dengan budaya kita di Indonesia yang turut mewarnai budaya kehidupan orang Islam yang makin berkembang ditanah air bersama ribuan budaya nusantara lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: