Matarantai Kebenaran Sebagai Ekosistem Yang Saling Terhubung

Kita  sering mendengar kata zarrah. Bersumber dari Al Qur’an. Yang sudah lazim dimaknai sebagai sesuatu yang (amat) kecil. Pada masa turunnya ayat-ayat tentang zarrah (QS An Nissa : 40 ; Saba’ : 3, 22, Az Zalzalah : 7-8), selain persepsi seorang Muhammad SAW; Nabi dan Rasul yang ummi namun super cerdas, dari persfektif benda dan atau materi yang bentuknya kecil, boleh jadi kaum muslimin  saat  itu mempersepsi zarrah  laksana  sebutir pasir ataupun senoktah debu di jalanan yang masih kasat mata.  Tak dapat disangkal bahwa keduanya itu adalah materi amat kecil. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, corong persepsi manusia dalam memaknai berbagai realitas menjadi kian melebar. Termasuk persepsi manusia terhadap sesuatu bernama zarrah.  Dari  sisi  materi,  temuan  awal  akan materi  super  kecil menurut ilmu pengetahuan terjadi pada tahun 1665, berupa sel tumbuhan. Penemunya mas Robert Hooke (1635-1703), ilmuwan asal Inggris.  Pengungkapan materi lebih kecil lagi, yakni atom, yang disimpulkan dari hasil serangkaian penelitian antara tahun 1808-1827 oleh ahli  kimia,  juga  dari  Inggris,  bernama  John  Dalton  (1766-1844), telah semangkin mempertajam serta memperkaya konsep zarrah. Selanjutnya, di  tahun 1930 Mas Wolfgang Pauli  (1900-1958)  fisikawan Swiss peraih Nobel 1945, menggagas sebuah hipotesa tentang keberadaan materi yang jauh lebih kecil lagi, yakni : neutrino. Pada  tahun 1950an hipotesa  itu berkembang telah diakui mayoritas  fisikawan dunia.     Keberadaan neutrino baru  terlacak di  tahun 1956 oleh kak Frederick Reines dan Clyde Cowan Jr, duet fisikawan Amerika. Mereka merancang detektor bertenaga nuklir di Carolina  selatan yang mampu mendeteksi keberadaan jenis elektron neutrino.  Kemudian dalam periode tahun 1970, 1980 dan 1990an dibuatlah detektor penangkap neutrino di seluruh dunia.     Salah satunya di Jepang  pada  tahun  1998 lalu ,  berupa  detektor  canggih  yang  ditanam satu km di bawah permukaan tanah, bernama Super Kamiokande, ketika itu kita sudah menyandang gelar sarjana serta aktif dalam program aksi pemberdayaan masyarakat tani secara nasional. Hasilnya hingga kini  telah diketahui  tiga  jenis neutrino.     Dua di antaranya; elektron dan muon neutrino, telah terdeteksi.  Adapun yang ketiga yaitu tau neutrino, dapat dikatakan masih misterius.

Ukuran sang neutrino ini luar biasa kecilnya, yakni ± 1/18.000.000 (seperdelapan  belas  juta)  proton.    Sementara massa  proton  sebagai salah satu bagian dari atom, amatlah kecil (sekitar 1,67 x 10-30 gram). Para ahli menyebut neutrino ini sebagai noktah (pointlike), karena ukurannya begitu kecil, bahkan dianggap mendekati nol. Saking kecil neutrino ini, maka ia dapat menembus hampir semua apapun  yang  dilaluinya.    Reaksi  nuklir  yang  berlangsung  secara terus-menerus di matahari, setiap detiknya menghasilkan 4 x 1038 atau empat ratus ribu desilyun (decillion = 1033) butir neutrino.

Karena itulah tiap 1 (satu) cm2 permukaan di bumi (termasuk tubuh kita), setiap detiknya ditembus oleh ± 70 milyar neutrino dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya (300.000 km/detik). Tetapi  anehnya, detektor yang paling canggih  sekalipun  ternyata setiap bulannya hanya mampu menangkap beberapa butir neutrino saja.   Artinya di dalam satu hari, apalagi dalam hitungan sejam, semenit, atau satu detik, tak satu neutrinopun yang terjaring. Dan keanehan itu sedikit agak terkuak di akhir dekade 1990an.   Sepanjang  perjalanan menuju  bumi,  sebagian  besar  elektron  dan muon neutrino diperkirakan telah berosilasi (berubah ujud) menjadi tau neutrino.  Atau mungkin jadi neutrino jenis lain lagi. Itulah gambaran persepsi manusia terhadap konsep zarrah, yang dalam rentang waktu ± 14 abad telah berkembang, kian diperkaya. Dan semua itu dilandasi argumen kebenarannya masing-masing. Perjalanan panjang umat manusia saat  dalam mempersepsi  1  (satu) kata  zarrah  sahaja di dalam Al Qur’an, sejak sebutir pasir dan atau debu hingga terungkapnya neutrino, serta adanya jenis tau neutrino yang memuat misteri sehingga para ahli yang gemar berburu neutrino pun tak akan pernah tahu neutrino secara seutuhnya, maka beberapa hal dapat kita petik hikmahnya.  Uraian itu adalah kilas untaian perjalanan panjang upaya manusia dalam mengungkap kebenaran sub realitas fisik dan nilai kualitatif.  Dalam  hal magnet  sebagai  satu  contoh  realitas  fisik  atau materi, kini telah terungkap dan kita ketahui bahwa magnet adalah benda berunsur  kimia  Fe3O4,  bersifat  bipolar  (dua  kutub),  berpasangan dengan  fenomena  elektrik,  bisa menjadi  energi  alternatif, media penyimpan  data,  penunjuk  arah  pada  alat  kompas, mengandung partikel sub-atomik berikut karakter mekanika quantumnya, dsb. Sejalan dinamika daya persepsi manusia,  semuanya  itu kini  telah diakui sebagai kebenaran akan sifat suatu benda bernama magnet.   Semua itu dikatakan benar, karena faktual.   Dan juga mengikuti referensi norma benar berupa ilmu yang telah diketahui manusia. Kebenaran  unsur  kimia magnet  (  Fe3O4  )  karena  telah  diketahui berdasar ilmu kimia tentang unsur Fe (ferrum / besi), O (oksigen). Dan kenapa pula Fe mesti ada 3 buah, dan O-nya harus 4 biji, dst.  Demikian seterusnya, dimana kebenaran berbagai bentuk persepsi manusia terhadap magnet itu selalu didukung oleh nilai argumen dalam sistem kebenaran lainnya.  Sehingga suatu kebenaran tidaklah berdiri sendiri, melainkan selalu ditunjang serta terangkai dan terhubung dengan nilai-nilai benar lainnya., atau menjadi suatu rangkaian alur kebenaran atau alur benar. Hal  itu  tidak  sahaja  lekat  pada magnet, melainkan pola tersebut persis berlaku pada seluruh realitas fisik, nilai-nilai kualitatif, dan realitas metafisik di semesta alam. Samalah seperti metabolisme dalam tubuh kita yang juga merupakan ekosistem yang saling terkait terhubung satu dengan yang lainnya. Wallohua’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: