Ilmu Ekonomi Peduli Lingkungan.

Orang pertama yang mengkaji bidang kajian “ekonomi lingkungan” (environmental economics) ini bermula dari tulisan yang mengalir dari Gray (1900-an), Pigou (1920-an), dan Hotelling (1930-an), akan tetapi baru muncul sebagai  studi koheren pada tahun 1970-an pada masa MM Partahian H SE AK baru dilahirkan ke bumi dan atau gak mungkin orang pertama mengalirkan kajian ini, yakni ketika revolusi lingkungan mulai terjadi di berbagai negara sebagaimana yang diutarakan para pendahulu ekonom. Namun yang paling kru sial adalah substansi dari kajian ini bila kita telaah lebih lanjut, terdapat tiga unsur pokok dalam ekonomi lingkungan ini, yakni sbb;

Pertama, kesejahteraan manusia sedang terancam oleh degradasi lingkungan dan penyusutan sumber daya alam.

Dalam hal ini sangat mudah untuk menunjukkan bukti kongkrit dari budaya kongkalikong yang menganggab engkonglu paling berkuasa dari timbulnya bencana banjir yang disebabkan oleh penggundulan hutan, pembukaan lahan untuk perumahan dan industri, terjadinya  erosi, dan lain sebagainya. Semuanya ini memiliki dampak bukan saja pada kesehatan, tetapi juga secara ekonomis merugikan kehidupan manusia.

Kedua, kerusakan lingkungan disebabkan  oleh penyimpangan/kegagalan ekonomi, terutama yang bersumber dari pasar.

Hal ini dapat diambil contoh, bahwa karena orientasi produk dan profit,  tidak sedikit beberapa industri yang mengabaikan analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang merugikan (externality) bagi masyarakat luas. Begitu juga banyak  industri-industri global yang menempatkan pabrik-pabrik dari negara maju ke  hutan-hutan dan persawahan di negara berkembang yang mampu mengantarkannya keposisi orang terkaya atas aktivitas ekploitasi SDA & SDM didaerah pedalaman tadi.

Ketiga, solusi kerusakan lingkungan harus mengoreksi unsur-unsur ekonomi sebagai penyebabnya.

Seperti halnya dengan kebijakan subsidi, relokasi industri, dan sebagainya, yang kiranya merusak lingkungan, harus segera dihentikan. Selain itu, jika ativitas  ’destruktif’ terselubung yang merugikan itu sulit dihentikan, perlu adanya stimulus solusi seperti penerapan pajak ekstra dan atau penerbitan lisensi khusus demi meredam kegiatan tersebut. Langkah ini pernah dilakukan di Amerika Serikat yang menerbitkan lisensi polusi dan lisensi memancing, yang ternyata cukup efektif mengatasi masalah tersebut (Pearce, 2000:300). Wallahu a’lam?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: